Tiada yang Tersembunyi
Terdengar seperti penggalan sebuah lirik lagu bukan?
Ya bener banget..
“Hanya Engkau”
“Pribadi yang mengenal hatiku”.
“Tiada yang tersembunyi bagiMu”.
“Seluruh isi hatiku Kau tahu”.
Disini lirik lagunya jika temen-temen ingin dengar ya.
Pribadi Yang Mengenal Hatiku
Selamat berakhir pekan ya temen-temen.
Kala saya ingin menulis Sunday devotion saya.
Yang biasa hanya melalui stories saya saja.
Renungan untuk kita semua!
Could you hide from the sin?
Jangan Sembunyikan Dosa
Yosua 7:19
Berkatalah Yosua kepada Akhan: “Anakku, hormatilah TUHAN, Allah Israel, dan mengakulah di hadapan-Nya; katakanlah kepadaku apa yang kauperbuat, jangan sembunyikan kepadaku.”
Kita seringkali menutupi kesalahan dan dosa kita.
Dengan banyak alasan kita malu dan takut untuk mengakui dosa kita dihadapan Allah.
Tapi ketahuilah tak ada satupun yang tersembunyi bagi Allah.
Dia mampu mengetahui dan menyingkapkan segala sesuatunya.
Yes betul, kita memang dapat menyembunyikan dosa kita dari manusia, tetapi kita tidak dapat menyembunyikannya dari Tuhan.
Melalui perikob tersebut Yosua tidak tahu bahwa Akhan lah yang melakukan perbuatan yang dilarang oleh Tuhan.
Lalu Yosua meminta Akhan untuk mengakui perbuatannya di hadapan Tuhan.
Dan janganlah menyembunyikannya daripada manusia.
Karena perbuatan yang dilakukan Akhan tersebut telah membuat banyak orang terbunuh dan terluka.
Dosa yang sudah kita buat, tanpa kita sadari sudah melukai bahkan menghancurkan orang lain. Tapi Allah yang ditempat tersembunyi mampu mengetahui dan menyingkapkan apa yang tidak dilihat oleh manusia.
Tidak berarti kita aman dan bebas melakukan kesalahan tersebut ya. Sekalipun kamu mendapat pembenaran, bahkan sampai menghalalkan segala cara untuk menutup-nutupinya.
Yosua 7:20
Lalu Akhan menjawab Yosua, katanya: “Benar, akulah yang berbuat dosa terhadap TUHAN, Allah Israel, sebab beginilah perbuatanku:
Dengan terpaksa Akhan mengakui perbuatan/dosanya di depan Yosua. Dosa yang selama ini dia simpan/bahkan disimpannya rapat-rapat bersama dengan hal-hal yang kelihatannya baik, sehingga tak satupun orang akan mengenalinya.
Tuhan tlah meminta Yosua untuk membuat Akhan jujur mengakui dosanya terhadap Tuhan dan membuat murka Tuhan.
Dosa adalah sesuatu hal yang serius
Yosua 7:25
Berkatalah Yosua: “Seperti engkau mencelakakan kami, maka TUHAN pun mencelakakan engkau pada hari ini.” Lalu seluruh Israel melontari dia dengan batu, semuanya itu dibakar dengan api dan dilempari dengan batu.
Dosa yang kita anggap kecil hanya mengambil sesuatu/benda yang bagi kita sepele tapi sebenarnya sudah dilarang oleh Tuhan untuk tidak melakukan hal itu.
Lalu kita enggan/tak mau mengakuinya. Baik karena gengsi, takut merusak nama baik atau jangan-jangan kita ga sadar bahwa dosa itu telah berakibat fatal dan merugikan orang lain.
Sepele apapun kesalahan dan dosa yang kita telah lakukan itu adalah serius dimata Allah. Dan dengan menyimpannya malah membuat murka Tuhan atas kita. Tuhan ingin kita mengakui dan bertanggung jawab.
Dosa mengandung Konsekuensi
Yosua 7:25
Berkatalah Yosua: “Seperti engkau mencelakakan kami, maka TUHAN pun mencelakakan engkau pada hari ini.” Lalu seluruh Israel melontari dia dengan batu, semuanya itu dibakar dengan api dan dilempari dengan batu.
Yosua 7:26
Sesudah itu didirikanlah di atasnya suatu timbunan batu yang besar, yang masih ada sampai sekarang. Lalu surutlah murka TUHAN yang bernyala-nyala itu. Oleh sebab itu nama tempat itu sampai sekarang disebutkan lembah Akhor.
Setiap Dosa memiliki konsekuensi membawa kita menjauh dari destiny yang Tuhan sudah sediakan. Tuhan mau kita hidup tanpa ada yang perlu kita sembunyikan dari Dia, sehingga kita dapat mengalami destiny Ilahi yang Tuhan sudah sediakan.
Karena pada akhirnya akan ada penghukuman dari Tuhan.
Sekalipun kita sudah mengakuinya.
Dosa tersebut membuat kita harus bertanggung jawab atas apa yang kita sudah perbuat.
Dan acapkali membuat Tuhan murka.
Analogi Sederhana
Analogi sederhana dari dosa dan tanggung jawab. Ada seorang anak datang ke sebuah toko mainan. Ketika memasuki toko tersebut si anak mulai berkeliling melihat-lihat semua mainan yang dipajang dalam etalase.
Ya tentu karena di dalam etalase sudah pasti itu lebih bernilai bagi pemilik toko. Tertera dalam toko tersebut tulisan “Pecah berarti Membeli”.
Lalu akhirnya si anak mulai menyukai sebuah mainan dan memutuskan untuk melihat dan memegangnya sambil mencari tahu bagaimana cara memainkannya.
Setelah beberapa waktu berlalu anak itu bermain dia mulai tertarik dengan mainan tersebut, dan menginginkan mainan itu.
Saking antusiasnya, tak sengaja ia menjatuhkan nya hingga pecah dan rusak saat ia berusaha berlari menuju ke orangtuanya.
Menurut kalian apa yang terjadi seharusnya?
Apakah cukup dengan mengakui bahwa dia yang menjatuhkan mainan itu?
Atau cukupkah dengan sebuah kata maaf saja?
Lalu si pelayan toko membiarkan anak itu pergi?
Tentu tidak bukan?
Si anak itu harus bertanggung jawab, tidak hanya dengan kata maaf.
Dia harus mengganti barang itu dengan membelinya.
Apakah orangtuanya harus setuju dengan barang tersebut? Tentu tidak.
Apakah penting bagi si orangtua bertanya kondisi barang tersebut sebelum rusak, untuk menghindari anaknya bertanggung jawab?
Tetapi sebagai orangtua, seharusnya ya ikut bertanggung jawab.
Si anak telah menghancurkan barang yang ada di etalase toko itu.
Dan karena aturan yang tertulis jelas sejak awal mereka memasuki toko tersebut.
Pecah berarti membeli, apapun kondisi barang itu sebelumnya si anak harus bertanggung jawab.
Kesimpulan
Akuilah dosa kita dihadapan Tuhan.
Karena tiada satupun yang tersembunyi bagi Tuhan.
Tak ada satupun yang tak mampu dia singkapkan.
Pertobatan itu penting, lalu cukupkah dengan kata maaf?
Tanpa ada pertanggung jawaban apapun?
Jangan bangga atas dosa kita. Namun bertanggung jawablah atas perbuatan kita.
Sebab itulah konsekuensi dari setiap dosa/perbuatan jahat.
Banyak orang yang luarnya baik, eh dalamnya penuh keburukan dan menyakiti orang lain.
Untuk menghindari tanggung jawab malah playing as a victim.
Jangan sibuk bangun Reputation tetapi melupakan Character.
Yang tampak luarnya baik belum tentu dalamnya baik.
Karena reputasi hanya membentuk apa yang bisa dilihat orang dari luar.
Sementara karakter menunjukkan apa yang ada di dalam yang tak kelihatan dari luar.
Oleh karena itu bangunlah karakter yang baik sehingga reputasi yang kita bangun sesuai dengan karakter kita yang baik pula.
Jauhkanlah tipu daya untuk menjatuhkan orang lain. Agar jangan kaupun jatuh dalam penghukuman.
Tabur Tuai
My stories 1
My stories 2
Cheers
–Desy–
