Anak Mami
Hello Monday,
Semangat buat seminggu kedepan ya temen-temen.
Sebuah tulisan untuk mengawali minggu yang bakalan padat dengan laporan.
Karena beberapa hari kemarin saya membaca berita yang sedang trending
seorang laki-laki menceraikan isterinya demi ibunya dan juga cerita lain tentang perselingkuhan.
Saya rasa ini judul yang tepat untuk trending topic tersebut.
Sekilas seperti cemilan waktu SD ya, anak mas atau semacam mi remez gitulah namanya eh itu jadul juga sih,
sekarang namanya ganti jadi mie gemez-Enaak atau Suki versi jepangnya =)
Ok, balik lagi ke cerita itu.
Cukup menarik, sehingga saya sampai baca ke komen2 nya netizen.
Untuk topik tersebut kita musti lihat dari 2 sudut pandang yang berbeda.
Karena akan menghasilkan point of view yang berbeda pula.
Jadilah ingin banget nulis cerita dan pengalaman dengan anak mami.
Eh ternyata saya banyak juga menemukan berbagai cerita2 lainnya.
Cinta Mama’s boy
Okay, buat temen-temen yang belum tahu ceritanya.
Jadi intinya si cwo ga bisa memberikan batasan hubungan dengan ibunya setelah menikah sehingga mempengaruhi hubungan rumtang dengan isterinya.
Dengan faktor-faktor lain dibelakang tentunya.
Si cwo merasa sang isteri tidak sopan terhadap ibunya.
Padahal sang ibu mencampuri rumtang anaknya.
Sementara laki-laki setelah menikah yang harus dibela dan diperjuangkan itu adalah isterinya bukan ibunya.
Ya benar dia harus tetap menghormati ibunya.
Tapi bukan berati dia mengesampingkan kebutuhan dan perasaan isteri/anak-anak/keluarga kecilnya.
Ya moso yang atur keuangannya ibunya bukan isterinya.
Ga tegas bener.
Gemes kan bacanya!!
Yes, menurut saya benar penilaian bahwa cwo diatas itu anak mami.
Terlihat jelas bahwa dia tidak bisa mengambil keputusan.
Mungkin juga belum siap untuk berumah tangga.
Atau bisa juga karena sang ibu belum iklas anaknya memiliki keluarga kecil.
Paham kog si ibu, merasa membesarkan sang anak.
Tapi dengan cara seperti itu menjadikan anaknya tidak dewasa.
Bahkan sampai tidak bisa mengambil keputusan untuk rumah tangganya dan kebahagiaannya.
Si cwo tidak bisa memberikan batasan yang jelas antara ibunya dan isterinya.
Dia ga paham betul hak dan kewajiban masing-masing setelah menikah.
Mau cerai batal karena sang isteri mengandung dlsb.
Tapi semua karena faktor sang ibu.
Ujung-ujungnya mereka bercerai sih.
Pendapat psikolog
Menurut psikolog Tika Bisono konotasi anak mami memang sangat buruk.
Dia membaginya dalam 3 jenis/tipe anak mami.
1. Masih bisa ambil keputusan sendiri
2. Bisa ambil keputusan sendiri meski sesekali minta persetujuan ibunya
3. Bergantung pada persetujuan ibunya
Bisa dilihat dalam tulisannya di artikel berikut.
Dia juga menuliskan bagaimana cara menghadapinya.
Tapi jika kita berhubungan dengan orang yang tipe ke-3 sudah dapat dipastikan kita tidak akan pernah menjadi nomor satu.
Menurut saya tipe ke-3 itu Redflag banget.
Apapun yang terjadi dalam hubungan akan selalu minta persetujuan dari ibunya.
Sekalipun dia harus bertanggung jawab.
Jika ibunya bilang tidak, tentu dia akan mendapat perlindungan untuk tidak perlu bertanggung jawab.
Dosa atau tidak urusan belakang.
Big no no banget lah sebagai laki2.
Ga ada gentle2nya acan.
Ciri-cirinya
Dalam artikel ini “Laki-laki yang anak mami” disebutkan ada 7 ciri:
- Keinginan ibunya adalah perintah yang tak bisa diganggu gugat. Mau sekedar pergi ke pasar, mengantarkan ke dokter, makan siang bersama, pokoknya ibu dulu baru yang lain. Walaupun kita sudah duluan punya janji (yang bisa jadi lebih penting) ia bisa dengan mudah membatalkan untuk ibunya.
- Ia ingin terus berhubungan dengan ibunya tiap hari, bahkan bisa jadi lebih dari itu. Baik lewat telepon, maupun secara langsung.
- Ibunya, ibunya dan ibunya baru kita (dan bisa jadi anak-anak kita nantinya).
- Ia tak bisa hidup jauh dari ibunya, bahkan masih tinggal bersamanya.
- Sulit untuk memutuskan sesuatu tanpa ibunya.
- Kita diharapkan bisa mengurus ibunya, seperti caranya melakukannya.
- Masih terikat secara finansial dengan ibunya.
Menurut kalian gimana?
Yes dari saya yang pernah menjalani hubungan dengan mamas boy.
Dan dari semua ciri diatas itu benar banget.
Seorang mamas boy memang sangat perhatian pada ibunya.
Sehingga saya pun berpikir pasti akan seperhatian itu kepada pasangannya.
Tapi janganlah berharap prioritas hidupnya lantas berpindah ke pasangannya setelah dia menjalani hubungan atau menikah nantinya.
-Jangan bermimpi ya marimar-
Terlihat dewasa dan perhatian terhadap orangtua gak lantas membuat pasangannya bisa dia hargai.
Tentu tidak.
Malah justru sangat manipulatif.
Buat janji pun sering dia batalkan dengan sejuta alasan.
Seperti hanya dialah yang paling sibuk di dunia ini.
Tidak sadar karena awalnya saya berpikir positif, sedekat dan seperhatian itu kah?
Ternyata oh ternyata, menentukan skala prioritas aja dia gak bisa.
Dan karena kebergantungannya itu dia tidak bisa mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri.
Bahkan paling pahitnya dia pun tidak bisa bertanggung jawab.
Akan apa yang pernah diucapkannya.
Untuk apa yang telah dilakukannya.
Ga mandiri, ga dewasa.
Actingnya sih perhatian ujungnya cuma akan menyakiti orang, trust me.
Gitu kira-kira.
Jadi no wonder ya sama berita si anak mami itu yang menceraikan isterinya karena alasan ibunya.
A little advice
Sebuah saran dari saya.
Kalau kalian punya tingkat kesabaran yang sangat tinggi.
Silahkan dicoba menjalani hubungan dengan mama’s boy inih.
Setidaknya mencoba peruntungan mendapatkan yang tipe 1.
Tapi jika kesabaran kalian setipis tissue, saran dari saya sebaiknya jangan dicoba.
Yakinkan diri dulu aja, kalau kalian siap jadi yang kedua dan tidak pernah menjadi prioritas.
Yakinin diri kalau dibanding2kan sama sang ibu itu adalah hal biasa buat kalian.
Dalam segala aspek loh ya. Mulai dari masakan, selera, pakaian, kebiasaan, kesukaan, dll.
If you are ready, congratz because you will be the winner then.
Ketidak mandirian seorang laki-laki sangat mempengaruhi keputusannya loh.
Kecuali kalian sudah membuat komitmen tersendiri ya.
Eh, komitmen yang dibuat tanpa campur tangan ibunya tentunya. (sulit deh kayaknya)
Kalau saran dari psikolog dalam artikel itu, si cowo suru buat janji.
Duh apalagi janji ye kan, janji depan kita A.
Eh pas bilang ibunya suru B, merasa zonk ga sih?
Inget, yang tampak di luar beda sama yang di dalem.
Run bestie run > kata temen saya yang gen-Z
So, berniat untuk mencobanya?
Berikut artikel tentang menjalani hubungan/menikah dengan anak mami.
Menjalani hubungan dengan mama’s boy
Intip tulisan saya yang lain yang serupa.
> Character
> Menyelesaikan Masalah
Sebagai referensi lain temen-temen bisa lihat di reels or tiktok banyak kog yang suka bahas relasi dengan anak mami seperti apa.
Berikut saya attach juga cuplikan sermon dr Ps.Gideon Simanjuntak yg relate banget “Para Pria (kepala rumah tangga) jangan jadi pengecut, tetapi bertanggung jawablah.” Karena Tuhan memberikan tanggung jawab utama kepada Adam bukan kepada Hawa.
Cheers
-dcy-
