Deceiver
Hello Again.
It’s me with all my thought, experience and tips from my entire life.
Disclaimer:
Tulisan ini tidak sempurna.
Dengan alur maju-mundur.
Based on my random thoughts, the real stories or just telling the devotion.
Sometimes it’s my friend’s story or experience.
Hope you guys enjoy reading the story.
Sebuah cerita dari pertemuan dengan seorang deceiver.
Senja
Suatu hari yang cerah di sudut kota Jakarta.
Di sebuah coffee shop di bilangan Jakarta Timur.
Duduklah seorang perempuan dengan sebuah laptop di depannya dan segelas cokelat hangat dihadapannya.
Jari-jemarinya menari diatas keyboard dan mulai menuliskan kisah hidupnya.
Berharap suatu hari nanti, bisa membuat buku sebagai sebuah kesaksian hidup.
Yang dapat menjadi obat dan penyembuh luka buat orang lain.
Itu pun bila masih ada kesempatan.
Sesederhana menuliskan sebuah cerita ini.
Tak banyak orang yang ingin menceritakan kisahnya saat berada dibawah (down).
Karena tak semudah menuliskan kisah berhasilnya saat sudah dipuncak (ups) ketenarannya.
Down moment is not easy to share.
Unless you are brave enough!
Saat ini, hari dimana segala sesuatu serba instant serba cepat dan mudah.
Kata orang.
Tapi aku tak melihat kecepatan itu ada dalam diri perempuan tadi.
Saat menulis, dia seringkali terdiam seperti membayangkan sesuatu hal.
Dunianya serasa berjalan sangat lambat.
Merasakan bebannya teramat berat.
Mungkin waktunya tak lama lagi, ujarnya.
Siapa yang tahu besok tak ada lagi kesempatan untuk menulis dengan air mata.
Atau mengenang sebuah pengalaman dengan senyuman.
Goresan luka, juga air mata mengalir di setiap kata yang teruntai.
Menceritakan kembali kisahnya dengan orang yang telah menyakitinya.
Down Moment
Bener-bener tidak menyangka yang dituliskan adalah sebuah pengalaman pahit.
Dari sebuah awal cerita yang indah.
Mengenal baik seorang penipu.
Yang tampak luarnya sangat bagus dan latar belakang yang juga baik.
Namun hancur berantakan.
Perasaannya, hatinya, hidupnya, harapannya.
Bahkan berakhir dengan cara yang tidak gentle.
Dia terlalu cepat menilai.
Terlalu baik dan positif.
Hingga mampu menyimpan dosa itu sangat rapat.
Yang dialaminya adalah sebuah kepahitan yang menghancurkan.
Down momentnya sangat dalam.
Adalah mengenal seorang penipu hari lepas hari.
Dikhianati dan dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Kadang hingga terdiam beberapa saat.
Membaca cerita demi cerita darinya.
Mendengar sebuah kisah pahit yang menggetarkan.
Tapi satu hal yang sungguh berbeda.
Dia masih tetap yakin bahwa disitu masih ada Tuhan.
Kehancuran, kepahitan, hingga rasa sakit yang dirasakan masih bisa membuatnya bertahan.
Gagalnya di setiap rencana mempertemukannya dengan sebuah kata bernama keajaiban.
Manipulatif
Real Deceiver pasti kata-katanya manipulatif.
Tapi perempuan itu tidak sedikit pun berpikir negatif tentangnya.
Perempuan sederhana, dengan pemikiran yang tidak biasa.
Mandiri dan cukup bertanggung jawab.
Mirisnya kehidupan mempertemukannya dengan pecundang demi pecundang.
Yang hanya memanfaatkan kebaikannya.
Ketulusan dan kepolosan yang dia miliki selalu dimanfaatkan orang yang tidak bertanggung jawab.
Sebuah perkenalan dan pertemuan yang jauh dari bayangannya.
Kesederhanaan ga bisa memastikannya bisa bertemu dengan yang benar.
Satu hal yang luar biasa.
Dia masih meyakini ada kehadiran Tuhan disetiap pertemuan.
Dan selalu percaya kalau Tuhannya tidak main-main.
Sekalipun dia sudah rasakan dipermainkan.
Ditengah rasa sakitnya, rasa bersalahnya justru lebih besar.
Karena dia mudah di manipulasi.
Kata demi kata yang pernah ia dengar, menghancurkan integritasnya.
Bahkan diremehkan dan direndahkannya.
Membawanya ke suatu dimensi lain bernama depresi.
Tutur katanya yang manis.
Sikapnya yang baik dan penuh perhatian.
Itu yang membuatnya tertipu.
Siapa sangka?
Penampilan dan appearance ternyata menipu.
Kata-katanya memang sangat manipulatif.
Halus dan licin.
Siapa yang tak tergoda.
Pintar dan juga sabar.
Santun terhadap orang tua tidak menjadikannya bisa menghargai waktu dan harga diri seorang perempuan.
Dan perempuan ini bukanlah korban yang pertama.
Ga cuma merusak integritas perempuan dan cuci tangan.
Bahkan sampai membunuh karakternya.
Perempuan ini tetap kuat.
Karena Tuhan melindunginya.
Kesaksian Hidup
Sebuah kesaksian hidup yang lahir dari perasaan kecewa dan kepahitan setelah ditipu dan dipermainkan.
Itukah nyali seorang gentleman?
Yang mencoba lari bersembunyi dari dosa, seperti Adam?
Ataukah karakter seorang pengusaha hebat dan keluarga yang sangat berpengaruh?
Sehingga mampu menutupi kesalahan seperti Akhor?
Membunuh dan berzinah seperti Daud?
Bersaksi dusta, menipu, dan juga tidak menepati janji.
Penghinaan dari seorang yang kaya dan lazarus yang miskin.
Perselingkuhan sampai percabulan.
Dan masuk dalam pelbagai dosa yang tertulis dalam kitab korintus.
Dilihat dan dirasakannya dalam kisah hidupnya.
Sungguh ini bukan sebuah drama.
Red flag guy, yang rumit dan complicated.
Hanya ingin dimengerti dan dilayani.
Track record yang keliatannya bagus.
Namun banyak hal yang terselubung.
Yang selalu menempatkan materi diatas segalanya.
Yang katanya begitu menghargai sosok seorang ibu.
Tapi tidak bisa menghargai perempuan.
Tetap kuat, sekalipun jatuh dalam pelbagai pencobaan sejak pertemuannya dengan orang yang salah.
Hancur perasaannya karena ditipunya.
Perempuan itu bahkan di hina dan direndahkannya.
Entah kenapa dia masih juga tetap kuat dan setia.
Dia melihat ada kuasa Tuhan.
Dan itu yang menguatkannya.
Dia melihat perbuatan Tangan-Nya.
Sekalipun kekecewaan yang menghampiri hidupnya.
Masih ada Tuhan
Berkali-kali dalam setiap kejatuhan, Tuhan menampakkan wajahNya.
I know, you guys can’t trust.
Perempuan itu mengalaminya.
Ya dia mengalami Tuhan dalam badainya.
Dalam lembah yang sangat kelam.
He was remind her and try to tell him the truth, over and over.
even, before something bad happen.
She is just nobody.
That’s why he ignored.
Dengan keras Tuhan menegur.
And It was real.
You will reap what you sow.
“Do not be deceived, God is not mocked; for whatever a man sows, that he will also reap. For he who sows to the flesh will of the flesh reap corruption, but he who sows to the Spirit will of the Spirit reap everlasting life.“ Galatians 6:7-8.
Galatia 6:7-8 TB. Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.
Perempuan itu tlah sadar.
Kalau ia hancur. TuhanNya lebih hancur.
So, whatever that happened to her.
God’s promises is still remain.
She lost her job because of him.
God replaced it.
She lost her happiness.
God keeps the joy inside her heart.
Since she is not a deceiver yet a victim.
Dia sadar, bahwa masih ada Tuhan.
Dia sudah rela dan iklaskan semuanya.
Karena Tuhan bela.
Her life is not a joke.
She had to fight for one life behind her.
And now everything in God’s hand.
Apapun yang temen-temen alami.
Perempuan itu sudah melaluinya.
Kalian ga sendirian menghadapinya.
Kalau kalian masih berjuang bangkit dari Titik Terendah bisa baca ke tulisan itu ya.
Atau yang merasa punya Luka yang dalam mampir juga ke tulisan ini.
Apapun itu tidak lepas dari bentukan Karakter.
Laki-laki tidak setia dan tidak bertanggung jawab ternyata lebih banyak kuotanya,
daripada yang setia dan bertanggung jawab.
Have a good day
–dcy–
